Selasa, 31 Juli 2018

FILSAFAT SEMESTA (Jostein Gaarder)

OLEH : FISTY WILDA SAFITRI


Menurut saya, saat ini ada sekitar 40% kelebihan CO2 di atmosfer dibandingkan pada zaman sebelum kita mulai membakar minyak, batu bara, gas, menebangi hutan dan menjalankan pertanian secara intensif seperti sekarang. Tingginya kadar CO2 saat ini belum pernah terjadi  sejak 600 ribu tahun lalu, dan penyebabnya ialah emisi buatan manusia 
Ada begitu banyak gas rumah kaca di luar sana hingga tidak ada lagi yang bisa memastikan apa konsekuensinya atas iklim global dan lingkungan 

Kesembangan unsur karbon menurut dia adalah sebuah kesetaraan antara jumlah CO2 yang di transfer ke atmosfer dari letusan gunung berapi , dan jumlah CO2 yang diurai oleh iklim dan angin serta yang pada akhirnya terikat di kerak bumi. Perbandingan ini slalu konstan selama ratusan juta tahun, dan siklus ini tidak dipengaruhi oleh manusia.
Lalu, seluruh unsur karbon yang selama berjuta-juta tahun telah menjadi bagian dari minyak, batu-bara , gas itu ‘diparkir’ dan keluar dari siklus tadi. Namun, keseimbangan yang rapuh ini telah diusik manusia melalui pembakar minyak, batu bara, dan gas, yang kemudian melepaskan CO2 ke atmosfer.

Meskipun jumlah CO2 yang dihasilkan oleh ulah manusia itu cuma sekedar bagian kecil dari jumlah yang ada dalam siklus alamiah, tapi itu menambahkan jumlahnya yang kemudian tidak bisa terurai dan terikat di kerak bumi secara alamiah. Sehingga makin lama jumlah CO2 di atmosfer semakin meningkat 

Sebagian besar ekosistem di bumi ini telah mulai menyusut, semakin banyak wilayah penghubung antara zona-zona yang sehat itu yang terputus. Di Afrika, misalnya, dahulu penyebaran flora dan fauna hampir memenuhi seluruh benua dari timur ke barat, tetapi sekarang, wilayah-wilayah itu telah menyempit menjadi beberapa bagian terpisah yang dahulunya adalah kawasan hutan. Hal yang sama terjadi juga di Eropa, Asia, dan Amerika. Bedanya mungkin adalah penyusutan keanekaragaman hayati di Eropa telah dimulai jauh lebih awal daripada benua-benua lainnya. Di bagian-bagian tengah Eropa hampir tidak ditemukan lagi binatang pemangsa besar. Di wilayah Norwegia saja, sejak tahun 1856-1893 telah ditembak mati lebih dari 5 beruang.




Video diatas menjelaskan perubahan iklim dari waktu ke waktu


Artikel :
Sebuah daftar yang biasa disebut daftar merah, berisi spesies- spesies flora dan fauna yang terancam, diterbitkan dalam edisi yang semakin bagus. Dilengkapi dengan gambar-gambar berwarna mengenai berbagai spesies yang berstatus kritis, sangat terancam, atau rentan. Sebagai kelanjutan alami dari kecenderungan di atas, dalam beberapa tahun kedepan pastilah kita akan mendapati sejumlah coffe-table books yang bagus dan juga dilengkapi gambar-gambar berwarna mengenai berbagai spesies yang telah punah. Atinya, dengan hasil-hasil fotografi ini, yang beberapa tahun lau merangkum daftar spesies terancam, suatu saat pada masa depan kita mungkin akan menyebut spesies punah semacam ini sebagai “fosil foto”, yang berarti spesies yang berhasil terselamatkan secara  optikal sebelum punah bersama dengan hilangnya habitat mereka.

Tidakkah ini menjadi sebuah ironi takdir bahwa seni fotografi –termasuk teknik penyimpanan secara digital - berhasil mencapai suatu tahapkecanggihan pada saat kita mulai menyebabkan penyusutan besar-besaran keanekaragaman hayati bumi ini? Bayangkan, suatu hari minat anak-anak lelaki pada dinosaurus akan berlalu dan tergantikan dengan kegandrungan pada galeri-galeri foto yang menampilkan berbagai burung dan mamalia yang sudah punah, atau setidaknya permainan mencocokkan hewan akan populer kembali.


Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh jagat raya ini yang memiliki kesadaran universal – sebuah sensasi yang tak terperi atas keluasan dan kemisteriusan alam semesta tempat kita menjadi bagiannya. Jadi, menjaga kelestariansumber kehidupan di planet bumi bukan hanya sebuah kewajiban global. Itu adalah sebuah kewajiban kosmik.
Entah ada atau tidak kehidupan lain di luar sana, kehidupan di bumi mewakili seluruh jagat raya, dan dengan kesadaran universalnya manusia berdiri dalam posisi khusus. Namun, manusia tidak dapat hidup tanpa bentuk kehidupan lainnya. Sebuah syarat penting eksistensi manusia contohnya ialah sesuatu yang begitu kecil dan remeh seperti jenis-jenis bakteri tertentu. Bahkan, bakteripun memiliki arti kosmik karena mereka terlibat juga dalam perjalanan kesadaran manusia tentang bumi dan seluruh alam semesta. Mari angkat topi kepada microorganisme semacam itu! Mereka mungkin tidak menyadari semua itu, tapi mereka juga memainkan sebuah peran kosmik!.



Artikel :
Manusia modern telah begitu terbentuk oleh asumsi –asumsi sejarah budaya kita, oleh peradaban yang telah memupuk kita. Kita mengatakan bahwa kita mengelola sebuah warisan budaya. Namun, kita juga terbentuk oleh sejarah biologis planet kita ini. Kita mengelola juga sebuah warisan genetik.

Butuh bermilyar-milyar tahun untuk membentuk diri kita. Memang sesungguhnya butuh bermilyar-milyar tahun untuk menciptakan seorang manusia! Namun, apakah kita dapat bertahan sampai milennium ketiga?

Apakah waktu? Awalnya muncul cakrawala waktu individu-individu, yang diikuti oleh cikrawala waktu keluarga-keluarga, budaya-budaya dan budaya tulis, kemudian datanglah apa yang kita sebut kurun geologis. Kita berasal dari organisme berkaki empat yang merayap naik dari laut sekitar 350 juta tahun lalu. Pada akhirnya, kita menempatkan diri kita dalam skala waktu kosmik. Kita hidup dalam sebuah jagat yang berumur kira-kira 13,7 miliar tahun.

Namun, seluruh pembagian waktu yang telah disebutkan tadi pada kenyataannya tidaklah terlalu terpisah satu sama lain seperti dugaan awal kita. Kita punya alasan untuk merasa nyaman tinggal di jagat raya ini. Bumi yang kita tinggali ini berusia sekitar sepertiga dari usia jagat raya, dan golongan hewan yang termasuk kita didalamnya, yaitu vertebrata telah ada selama sepuluh persen dari masa hidup bumi dan sistem tata surya. Atau sebaliknya: akar asal dan kekeluargaan kita  dengan tanah jagat raya ini begitu substansial dan mendalam.



Artikel:
Menurut teori-teori yang sudah umum, alam semesta tercipta sekitar 13,7 miliar tahun lalu.  Proses penciptaan itu biasa disebut dengan “ledakan dahsyat”. Sementara ini bisa dikatakan sebagai pengambilan kesimpulan yang tergesa dalam menyatakan tanda-tanda kesamaan antara kelahiran alam semesta dan awal segala sesuatu.  Ledakan dahsyat itu bisa jadi adalah bagian dari sebuah kontinuitas rigid dari satu kondisi ke kondisi yang lain. 
Apa yang seharusnya terletak di “bawah” atau “belakang” alam semesta tidak ada yang bisa mengetahuinya.  Dunia ini adalah sebuah teka-teki yang intens.  Sudah bisa dikatakan cukup terhormat dengan sekedar menundukkan diri pada hal-hal yang gaib. 
Memandang ke cakrawala malam-malam dunia ialah memandang ke dalam batas-batas kondisi kita.  Di luar garis-garis horizon ini terdapat kemungkinan – kemungkinan tak terhingga untuk sebuah keyakinan... 
Boleh saja kita memiliki keyakinan dalam hidup,  dan tentu saja boleh untuk berharap akan sebuah penyelamatan di dunia ini.  Namun, tidak ada jaminan bahwa yang menanti kita adalah sebuah langit baru dan sebuah bumi baru.  Lagi pula sungguh diragukan bahwa akan ada kekuatan dari luar bumi yang akan turun dan menerapkan hari pengadilan.  Tapi suatu hari nanti,  kita diadili oleh para penerus kita sendiri.  Kalau kita lupa memikirkan mereka,  mereka tidak akan pernah melupakan kita. 



Pemanasan global telah menyebabkan kekeringan di daerah-daerah tropis,  dan ini juga telah melepaskan overdosis CO2 ke atmosfer.  Ribuan spesies telah punah, seluruh jenis manusia kera (humoniodea) telah binasa,  dan contoh lainnya,  jenis lemur malagasi kini hanya tinggal tiga individu,  juga berbagai serangga yang tak tergantikan seperti lebah dan tawon kini telah punah total atau sebagian,  sampai-sampai manusia terpaksa harus melakukan polinadi manual untuk pembiakan berbagai tanaman penting.  Telah terjadi  kehancuran total di alam,  sebuah interupsi besar dalam himpunan ekosistem,  peradaban hampir-hampir berjalan di tempat, dan populasi dunia berkurang secara drastis akibat kerusakan alam.  Lalu terjadilah petang-petang yang memperebutkan sumber daya alam,  dan segera semuanya akan berakhir.  Keheningan menyelimuti berbagai daerah yang dulunya komunitas anonimitas lokal yang hidup



Artikel:
Sifat manusia ditandai dengan sebuah kemampuan memandang secara horizontal terus menerus.  Kita senantiasa menjelajah dengan pandangan kita dan mencari berbagai kemungkinan bahaya atau peluang.  Dengan begitulah kita secara alami dapat mempertahankan diri dan orang-orangan yang kita sayangi.  Tapi,  kita tidak memiliki kemampuan alamiah yang sama untuk melindungi generasi sesudah kita,  apalagi untuk melindungi spesies lain di luar spesies kita sendiri.  
Telah tertanam dalam sifat kita sebagai makhluk hidup untuk lebih mementingkan gen kita sendiri.  Namun,  kita tidak memiliki kecenderungan yang sama untuk melindungi gen kita sendiri dalam empat atau delapan generasi.  Ini adalah sesuatu yang kita harus pelajari.  Ini harus kita pelajari seperti ketika kita harus mencerna seluruh bangunan hak asasi manusia.  
Sejak spesies kita muncul di Afrika,  kita telah melakukan pertempuran sengit untuk mempertahankan agar ranting-ranting kita tidak terpotong dari pohon evolusi.  Dan pertempuran itu telah dimenangkan,  kita masih disini hari ini.  Tapi,  manusia sebagai spesies telah sedemikian berhasil sampai-sampai kita mengancam sumber penghidupan seluruh spesies lain.  Sebagai primata yang suka bermain-main, inventif, dan berlebihan,  kita mudah sekali lupa bahwa pada dasarnya kita adalah bagian dari alam.  Namun,  apakah kita begitu sukanya bermain-main dan menghamburkan sesuatu hingga permainan itu lebih didahulukan ketimbang tanggung jawab kita atas masa depan planet ini? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MIND OF PHILOSOPHY(Jostein Gaarder)

by : fisty wilda safitri Benakku bergolak. ratusan gagasan baru menggelegak. Pikiran-pikiran terus membanjir. Sampai tingkat tertentu, pi...